Peran Pemerintah Daerah dalam Pelestarian Budaya Pasola di Kabupaten Sumba Barat
DOI:
https://doi.org/10.55606/jempper.v5i2.6508Keywords:
Community Dynamizer, Cultural Tourism, Pasola Culture, Pelestarian Adat, The Role of GovernmentAbstract
Pasola is a traditional cultural ritual of the people of West Sumba Regency, which holds strong historical, social, and spiritual values and also has significant potential as a cultural tourism attraction. However, its sustainability faces several challenges, including the shift from sacred meaning to tourism commodification, limited infrastructure, and suboptimal policy implementation. This study aims to analyze the role of the local government in preserving Pasola culture using the theoretical framework of government roles as regulator, dynamizer, and facilitator. This research employs a qualitative descriptive approach. Data were collected through interviews, observation, and document analysis, and analyzed using the interactive model of Miles and Huberman. The findings indicate that the West Sumba Regency Government has performed its roles relatively well. As a regulator, the government has established regulations, safety standards, and cultural promotion policies. As a dynamizer, it has encouraged community participation through cultural calendars, the formation of cultural preservation teams, and cultural education programs. As a facilitator, the government has provided financial support, infrastructure, health services, and collaboration with the private sector. Nevertheless, challenges remain in terms of policy implementation, particularly regarding safety management, equitable distribution of assistance, infrastructure quality, and consistent application of standard operating procedures. This study concludes that stronger coordination, capacity building, and continuous evaluation are essential to ensure effective, sustainable cultural preservation while maintaining the sacred values of Pasola.
References
Angkasa, I. M. K., & Purnomo, A. (2025). Peran pemerintah Desa Labuhan dalam pengembangan potensi wisata Pantai Kutang Desa Labuhan. Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial, 4(11), 2. https://doi.org/10.17977/um063.v4.i11.2024.2
Azijah, F., Amalia, A., Nurfajar, M., Sitanggang, A. S., & Lukita, C. (2022). Peran pemerintah dalam pelestarian Kampung Adat Cireundeu. Perspektif, 11(3), 1173–1180. https://doi.org/10.31289/perspektif.v11i3.7240
Collins, S. P., Storrow, A., Liu, D., Jenkins, C. A., Miller, K. F., Kampe, C., & Butler, J. (2021). No title.
Djaha, P. I. W., & Darmastuti, R. (2020). Branding Sumba Barat melalui media interaktif berbasis kearifan lokal budaya Pasola untuk pengembangan pariwisata di Kabupaten [tidak lengkap]. Jurnalisa, 6(1), 84–103.
Fahreza, M. F. (2022). Peran pemerintah daerah dalam pelestarian budaya lokal di Kabupaten Bulukumba [Doctoral dissertation, Universitas Hasanuddin].
Friedman, M. (2019). Pengertian peran dan konsep teori peran. Konsep dan Pengertian Peranan, 3, 19–39.
Haqiqi, & Fitriyana, A. (2024). Peran pemerintah daerah dalam pelestarian permainan tradisional guna upaya pemajuan kebudayaan di Kabupaten Tabalong. Paradigma, 1(2).
Ii, B. A. B., & Pustaka, T. (2010). Pelestarian. 1995, 9–26. (Data tidak lengkap).
Kila, J. A., Ventje, K., & Gustaf, U. (2023). Optimalisasi peran pemerintah daerah dalam pelestarian budaya lokal (Suatu studi di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Halmahera Utara). Jurnal Governance, 3(1), 1–7.
Lantaeda, S. B., Lengkong, F. D. J., Ruru, & O. M. (2017). Peran Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dalam penyusunan RPJMD Kota Tomohon. Jurnal Administrasi Publik (JAP), 4(48), 243.
Pasa, Y. P. (2023). 3097-Article Text-11625-1-10-20230926. 4(2), 142–152. (Nama jurnal tidak dicantumkan).
Sarman, & Tohopi, R. (2025). Peran pemerintah desa dalam meningkatkan pemberdayaan masyarakat Desa Kasango Kecamatan Taliabu Barat Laut Kabupaten Pulau Taliabu Propinsi Maluku Utara. 2(April), 117–121. (Nama jurnal tidak dicantumkan).
Sentanu, I. G. E. P. S., & Mahadiansar, M. (2020). Memperkuat peran pemerintah daerah: Mengelola pariwisata lokal yang berkelanjutan. Jurnal Ilmu Administrasi Negara (JUAN), 8(1), 1–20. https://doi.org/10.31629/juan.v8i1.1879
Setiobudi. (2023). Peran budaya religious dalam meningkatkan emosional. IAIN Kediri, 7(1), 20–34. (Jenis publikasi tidak lengkap).
Sugiyono. (2020). Metodologi penelitian kuantitatif, kualitatif dan R & D. (Penerbit tidak dicantumkan).
Syakhrani, A. W., & Kamil, M. L. (2022). Budaya dan kebudayaan: Tinjauan dari berbagai pakar, wujud-wujud kebudayaan, 7 unsur kebudayaan yang bersifat universal. Journal Form of Culture, 5(1), 1–10.
Tato, Y. (2013). Peran pemimpin dalam meningkatkan disiplin kerja aparatur di Badan Pendidikan dan Pelatihan dan Pengembangan (Bandiklatlitbang) Kabupaten Kutai Timur. Jurnal Administrasi Reform, 1(1), 263–285. http://dx.doi.org/10.52239/jar.v1i1.462
Pariangu, U. T. W., Lewar, A. C. M., & Kase, P. (2024). Peran pemerintah daerah dalam pelestarian situs sejarah dalam rangka mengoptimalkan pendapatan asli daerah. Journal Publicuho, 7(2), 476–483. https://doi.org/10.35817/publicuho.v7i2.379
Utami, R. C. (2021). Landasan konseptual perencanaan dan perancangan arsitektural: Pusat kebudayaan Nusa Tenggara Timur di Kota Kupang dengan pendekatan arsitektur vernakular kontemporer (pp. 19–51). (Jenis dokumen/penerbit tidak dicantumkan).
Wardani, L. (2017). Metode penelitian (pp. 53–64). (Penerbit/sumber tidak dicantumkan).




