Personifikasi Karakter Antibiotik dan Bakteri sebagai Strategi Edukasi Visual dalam Kampanye Sosial “Bijak Berantibiotik” di Puskesmas Wonokromo
Keywords:
Resistensi Antibiotik, Kampanye Sosial, Edukasi Visual, Personifikasi Karakter, Puskesmas, Puskesmas WonokromoAbstract
Resistensi antibiotik merupakan ancaman kesehatan global serius yang dipicu oleh rendahnya literasi masyarakat, termasuk di lingkungan Puskesmas Wonokromo. Perilaku swamedikasi tanpa resep (62,7%) dan ketidakpatuhan dosis (44,6%) menjadi masalah utama akibat adanya kesenjangan kognitif pada audiens usia produktif. Penelitian ini bertujuan merancang kampanye sosial "Bijak Berantibiotik" dengan strategi personifikasi karakter untuk mentransformasi informasi medis yang kompleks menjadi narasi visual yang empatik. Menggunakan metode Design Sprint serta pendekatan kualitatif dan kuantitatif, hasil perancangan ini mengusung konsep "Edukasi Visual Penawar Tangguh" dengan gaya flat design. Media yang dihasilkan berupa motion graphic, poster, dan stiker instruksional yang ditempatkan pada titik kontak (touchpoints) strategis alur pasien. Strategi personifikasi ini terbukti efektif menurunkan resistensi psikologis audiens dan berfungsi sebagai instrumen pendukung bagi tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi.
References
[1] World Health Organization. (2020). Antimicrobial Resistance.
[2] Ardina, M. (2022). Pengantar Komunikasi Kesehatan. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
[3] Kotler, P., & Lee, N. R. (2011). Social Marketing: Influencing Behaviors for Good. SAGE Publications.
[4] DiSalvo, C. F., & Gemperle, F. (2003). From Senses to Sentience: Personification and Communities. Carnegie Mellon University.
[5] Ambrose, G., & Harris, P. (2011). The Fundamentals of Graphic Design. AVA Publishing.
[6] Knapp, J., Zeratsky, J., & Kowitz, B. (2016). Sprint: How to Solve Big Problems and Test New Ideas in Just Five Days. Simon and Schuster.
[7] A. A. F. N. Irfan, "Hampir 80% Masyarakat Indonesia Lakukan Pengobatan Sendiri," GoodStats, 2024. [Daring]. Tersedia pada: https://data.goodstats.id/statistic/hampir-80-masyarakat-indonesia-lakukan-pengobatan-sendiri-xasvl. [Diakses: 4 Des. 2025].
[8] I. N. Kadariswantiningsih, "Ancaman Resistensi Antibiotik di Indonesia yang Perlu Diwaspadai," Universitas Airlangga, 2025. [Daring]. Tersedia pada: https://unair.ac.id/ancaman-resistensi-antibiotik-di-indonesia-yang-perlu-diwaspadai/. [Diakses: 9 Sep. 2025].
[9] U. R. Malik, "Misuse of antibiotics in the community and its implications for the healthcare sector - A narrative review," Premier J. Public Health, vol. 1, no. 1, hlm. 1-12, 2024, doi: 10.70389/PJPH.100001.
[10] R. S. Pambudi, "Sosialisasi penggunaan antibiotik yang benar pada konsumen apotek Yudhistira Surakarta," RESWARA J. Pengabdi. Kpd. Masy., vol. 3, no. 1, hlm. 214-219, 2022, doi: 10.46576/rjpkm.v3i1.1654.
[11] A. I. Pratiwi, W. I. Wiyono, dan I. Jayanto, "Pengetahuan dan penggunaan antibiotik secara swamedikasi pada masyarakat kota," J. Biomedik, vol. 12, no. 3, hlm. 176-185, 2020, doi: 10.35790/jbm.12.3.2020.31492.
[12] World Health Organization (WHO), WHO Model Prescribing Information: Drug Use in Bacterial Infection. Geneva: WHO, 2003.
[13] O. T. Antika, "Tingkatan komponen yang mempengaruhi kepatuhan penggunaan obat antibiotika pada pasien rawat jalan di Puskesmas Gamping Sleman Yogyakarta," Skripsi, Univ. Ahmad Dahlan, Yogyakarta, 2024.
[14] Pemerintah Indonesia, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 24 Tahun 2021 tentang Pedoman Penggunaan Antibiotik. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2021.
[15] D. W. Soewardikoen, Metodologi Penelitian Desain Komunikasi Visual – Edisi Revisi. Yogyakarta: PT Kanisius, 2021.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Jurnal Publikasi Ilmu Komputer dan Multimedia

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.







